Tampilkan postingan dengan label Aquaculture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aquaculture. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2008

DISKUS, SEVERUM, RAINBOW, NIASA

TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PENGENALAN JENIS IKAN HIAS

(DISKUS, SEVERUM, RAINBOW, NIASA)

1. PENDAHULUAN

Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat DKI Jakarta khususnya petani ikan/nelayan telah ditempuh berbagai cara diantaranya memanfaatkan lahan pekarangan dengan usaha pemeliharaan ikan hias. Jumlah ikan hias khususnya ikan hias air tawar yang susah dapat dibudidayakan di Indonesia ada 91 jenis. Dari ke 91 jenis ikan tersebut, ada beberapa jenis ikan hias tersebut yang sangat potensial untuk dikembangakan karena selain dapat dipasarkan didalam negeri juga dapat merupakan komoditas eksport. Jenis-jenis ikan hias yang potensial tersebut antara lain ikan Diskus, Severum, Rainbow, dan Niasa. Untuk lebih mengenal jenis ikan tersebut pada Bab selanjutnya akan dikemukanan sifat dari ikan-ikan tersebut.

2. JENIS IKAN HIAS

  1. Diskus
    Ikan hias Diskus (Symhysodonodiscus) merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang berasal dari sungai Amazon (Brasil). Jenis ikan tersebut mempunyai nilai ekonomis yang baik dan sangat disenangi di berbagai negara. Di Indonesia ikan Diskus sudah dapat dibudidayakan dan sangat potensil untuk dikembangkan karena selain dapat dipasarkan dipasaran lokal, juga dapat merupakan komoditas ekspor. Ciri khas dari ikan diskus ialah benetuk badannya tubuh pipih, bundar mirip ikan bawal dengan warna dasar coklat kemerah-merahan. Ikan diskus dapat dibudidayakan didalam Aquarium untuk sepasang diskus dapat ditempatkan dalam aquarium berukuran sekitar 75 x 35 x 35 cm kwalitas yang diperlukan untuk hidup dan berkembang ikan diskus yaitu di air yang jernih, temperatur sekitar 28 - 30 ° C pH (derajat keasaman) 5 - 6 selain itu kandungan Oksigen terlarutnya harus cukup tinggi yaitu + lebih besar dari 3 ppm (pxrt per million). Ikan Diskus sudah dapat dikembangbiakan setelah berumur antara 15 - 20 bulan. Adapun makanan yang umum dengan makan yaitu kutu air, cuk, cacing (makanan buatan) yang ada dipasaran.
  2. Severum
    Ikan severum Cichlosoma severum adalah salah satu jenis ikan hias air tawar yang berasal dari Amerika Serikat bagian Utara (S. Arhazone). Tubuhnya pendek, gemuk dan gepeng dengan warna dasar tubuh bervariasi yaitu coklat kekuningan, atau hitam kecoklatan. Jenis ikan ini juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Ikan Severum dapat dipelihara didalam aquarium atau bak semen kwalitas air yang diperlukan untuk pemeliharaan ikan severum yaitu: PH. : 5,5 - 7, temperatur air 21 - 25°C. Ikan Severum sudah dapat dipijahkan setelah berumur + tahun dengan ukuran 12 - 15 cm. Induk jantan dari betina dapat dibedakan dari warna dan ukuran induk jantan berwarna lebih cerah dengan induk yang lebih besar dari betina. Makanan yang dapat diberikan jenis ikan ini antara lain: kutu air, cuk, cacing sutera dll.
  3. Ikan Rainbow
    Ikan Rainbow merupakan jenis ikan hias yang banyak diminati masyarakat karena jenis ikan ini juga dapat merupakan komoditi eksport. Ada 2 jenis rainbow yang cukup terkenal yaitu rainbow Irian (Melano Tacnia maccaulochi dan Rainbow Anlanesi ogilby Telmatherina ladigesi ahl Rainbow Irian warna dasarnya keperak-perakan dengan warna gelap metalik sedangkan rainbow Sulawesi warna dasarnya kuning zaitun, dengan warna bagian bawah kuning jenis ikan ini termasuk ikan bertelur dengan menempelkan telur pada tanaman air. Kwalitas air yang diperlukan untuk kehidupan jenis ikan ini yaitu temperatur air 23 - 26 ° C. Ph. air sebaiknya diatas 7. Jenis ikan ini dapt hidup dan berkembang-biak dalam aquarium maupun bak semen. Ikan ini sudah dapat memijah setelah berumur + 7 bulan dalam ukuran 5 - 7 cm. Makanan yang biasa diberikan dalam pemeliharaan ikan ini yaitu kutu air, cacing zambut atau cuk. Supaya ikan dapat tumbuh dengan baik selama pemeliharaan bertelur, air harus klop memenuhi persyaratan dan dilakukan penggantian air + 1 minggu 1 kali.
  4. Ikan Niasa
    Psedatropheus auratus Bonlenger atau nama Inggris Auratus. Di DKI jakarta lebih dikenal dengan nama Niasa jenis ikan ini mempunyai tubuh memanjang agak datar, warna dasar kuning keemasan cerah atau hitam pekat. Ikan Niasa sangat agresif gerakannya sehingga harus hati-hati kalau akan dicampur dengan jenis ikan lain. Kwalitas air yang diperlukan untuk hidup dan berkembang ikan Niasa yaitu pH = 7, temperatur 24 - 27°C. Pemeliharaan dapat dilakukan didalam bak semen atau aquarium. Ketinggian air yang diperlukan untuk pemijahan sekitar 30 - 35 cm. Ikan Niasa sudah dapat memijahkan dalam umur 7 bulan dengan ukuran panjang tubuh : 7 cm. Induk jantan dan betina dapat dibedakan dari totol kuning sirip anusnya. Ikan jantan biasanya memiliki totol-totol in, sementara si betina tidak. Makanan yang diberikan antara lain : Cuk, kutu air.

3. SUMBER

Dinas Perikanan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta, 1996

4. KONTAK HUBUNGAN

Pemerintah DKI Jakarta, Dinas Perikanan

Cerita orang yang membudidayakan Diskus

Produktif atau Tidak, Tetap Disayang

Hampir dua tahun ini Yusni dikerjai ikan-ikannya. ''Mereka tidak mau produksi,'' katanya sambil memandangi puluhan ikan diskus yang berseliweran di akuariumnya.

Selama dua tahun terakhir ini, dr Ida Yusni Solichin disibukkan urusan remaja yang kecanduan narkoba. Buntutnya, ikan-ikan diskus warna-warni yang biasa diajak bercengkerama tiap pagi dan petang sepulang kantor pun mungkin merasa diabaikan.
''Mereka ngambek, tidak mau menghasilkan,'' katanya,''Bertelur saja ogah, apalagi menggendong anak.'' Akibatnya, dalam kurun waktu itu, tak ada perkembangbiakan yang berarti.

Bukan maksud Yusni memanjakan. Ikan air tawar asal Sungai Amazon, Brazil ini tergolong ikan sensitif dan mungkin juga suka 'gaul'. Bila diajak berkomunikasi, ia akan lebih aktif melenggak-lenggok.

Ikan bulat pipih itu dinamai diskus karena bentuknya seperti cakram. Sekarang, jumlah diskus Yusni sebanyak 22 pasang aneka warna yang terdiri dari jenis-jenis Marlboro, Blue Diamond, Solid Blue, Solid Red, Pigeon Blood, Cobalt, Snake Skin. Ikan-ikan itu menghuni akuarium di ruangan khusus yang terang dan bersih.

Untuk 'rumah' bagi akuarium itu, Yusni dan suaminya, M Solichin, sengaja membongkar taman di samping rumah di kawasan Utan Kayu, Jakarta. ''Sengaja dibuatkan ruangan untuk mereka,'' tutur ibu tiga anak yang kini menjabat Kasubdit Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial itu.

Monogami
Yusni dan Solichin memang penggemar ikan. Mereka berdua juga gemar memancing dan mengikuti berbagai lomba. Sedangkan urusan pemeliharaan ikan diawali suami Yusni dari ikan cupang yang populer sebagai ikan aduan.

Diskus mulai memasuki kehidupan keluarga ini pada tahun 1980-an. Kala itu ikan ini belum lagi populer. Ia membeli 10 ekor jenis Cobalt di Setiabudi, Jakarta. ''Saya ingat betul, dulu masih mahal, harganya Rp 15.000-an,'' kenang Yusni. Jenis yang sama sekarang Rp 2.500.

Untuk lima pasang ikan itu dibuatkan lima akuarium. Mereka pun beranak-pinak sampai ia harus menambah lima akuarium lagi. Suatu hari ada seseorang yang menanyakan apakah Yusni ingin menjual ikan-ikannya. Ia sempat terheran-heran. ''Ternyata laku juga,'' katanya.

Rupiah pun mengucur dari akuarium-akuarium itu. Tiap bulannya, dari sekitar 20-an pasang bisa menghasilkan 500 diskus. Ikan itu diambil eksportir untuk dikirim ke Belanda, AS, dan Singapura. ''Di Singapura ikan itu disortir, dijual lebih mahal,'' katanya. Ia sendiri menjual seharga Rp 20.000-an, untuk Blue Diamond.

Ia mengakui, bila bisnis diskus ini ditekuni, hasilnya lebih besar dari praktek dokter. ''Tapi, ini hobi, bukan bisnis,'' katanya. Itulah sebabnya, meskipun saat ini ikan-ikannya tidak berproduksi, Yusni tetap merawat mereka baik-baik.

Untuk itu pula, psikiater di Rumah Sakit Afia, Jakarta Pusat ini tak segan mengeluarkan sekitar Rp 400.000 untuk makanan ikan. Dengan waktu makan tiga kali sehari, melahap larva blood worm sebanyak 6 ons.

Ikan-ikannya boleh jadi tengah macet berproduksi besar-besaran, tapi Yusni punya rencana lain. Ia ingin menghasilkan ikan dengan warna-warna baru. Salah satunya, ia ingin menghasilkan polos kuning dengan menjodohkan Marlboro dengan Si Blue Diamond. ''Kalau bisa jadi harganya mahal, Rp 10 juta,'' kata bendahara Kelompok Diskus Indonesia, organisasi yang beranggota sekitar 100 orang ini.

Tak cuma warna. Diskus pun dinilai dari rupanya. Semakin bagus dia bila bentuknya semakin mirip cakram. ''Jadi, mulutnya tidak mencuat,'' jelas wanita yang gemar bercocok tanam dan juga menyulam ini.

Menjodohkan diskus, diakuinya, susah-susah gampang. Pasalnya, ikan ini sensitif dan monogamis. Bila pasanganya mati, ia tak mudah pindah 'ke lain hati'. Walhasil, saat diberi pasangan baru, ia marah. ''Pasangan barunya dipukul-pukul pakai ekornya,'' jelas Yusni.

Sekali bertelur, seekor ikan bisa menghasilkan 200 hingga 300. Namun, tak semuanya jadi. Bila telur yang dibuahi menetas, ikan-ikan kecil akan menempel pada tubuh ikan betina. Sebab, ikan muda makan lendir pada tubuh ikan dewasa itu. Namun, seringkali ikan betina itu menyantap ikan-ikan kecil yang menumpang pada badannya.

Untuk menjaga kesehatan ikan-ikannya, air akuarium harus diganti tiap harinya. Airnya pun harus dibersihkan lebih dulu dari kaporit. Kotoran ikan pun harus segera disingkirkan dengan alat penyedot.

Bila dibiarkan, kotoran yang mengandung amoniak ini bisa menghambat pertumbuhan ikan. ''Ikan-ikan itu jadi kerdil,'' katanya. Malam hari pun bukan halangan baginya untuk menyedot kotoran yang menempel di dasar akuarium.

Ikan-ikan Yusni memang indah. Namun, jangan berharap bisa duduk menikmatinya di ruang akuarium. Ruangan berukuran 3x4 meter itu panas dan pengap. Maklum, lubang-lubang anginnya ditutup. ''Udaranya disesuaikan kebutuhan ikan,'' katanya. Diskus yang umurnya bisa mencapai 4 tahun ini membutuhkan suhu 25-27 derajat Celcius.

Yusni mengaku memperoleh ketenangan dari hobi merawat ini. ''Mereka itu indah, gerakannya gemulai, warnanya cantik,'' ujarnya sambil menggerakkan tangannya dengan halus, menirukan gerak peliharaannya.

Ia percaya, memandangi ikan-ikan peliharaan itu bisa mempengaruhi karakter si pemilik. ''Bisa menimbulkan ketenangan.''
Lain halnya, katanya, dengan ikan arwana. ''Dia gagah berani, mencaplok mangsanya dengan tenang. Biasanya mempengaruhi sifat kita, dalam bisnis mencaplok-caplok ha...ha...ha...''
poy ()

Berbagai Strain Diskus


Gold Diamond


Red Marlboro


Pearl Pigeon


Blue


MarlBoro


Red Pigeon


Snake Fin



Red Ribbon

Sejarah Singkat diskus

 
Sebutan Discus bagi ikan ini mengacu pada bentuk tubuhnya yang menyerupai lempengan piring (disk) yang berdiri tegak. Discus termasuk dalam famili Cichlidae, dan tergolong dalam genus Symphysodon. Symphysodon berarti "memiliki gigi pada bagian tengah rahang".

Discus yang pertama kali dikenal adalah Symphysodon discus heckel. Deskripsinya ditulis oleh Heckel pada tahun 1840. Jenis ini dikenal sebagai "Discus Sejati". Discus Heckel berbeda dengan Discus lainnya. Jenis ini memiliki tiga garis vertikal yang lebih jelas,yaitu baris pertama yang melewati kepala, baris kelima yang melewati bagian tengah tubuh, dan garis ke sembilan atau garis ekor. Selain itu S. discus diselimuti oleh marking biru bergelombang pada bagian samping tubuhnya. S.discus berasal dari Rio Negro dan anak-anak sungainya.

Symphysodon aequifasciata aequifasciata, dikenal sebagai Discus Hijau,dideskripsikan pertama kali oleh Pellegrin pada tahun 1904. Ikan ini merupakan jenis Discus kedua yang "ditemukan". Mereka ditemukan di Danau Tefe dan Peruvian Amazonia. Selama tigapuluh tahun kemudian ikan ini terlupakan dan baru dikenal oleh para hobiis setelah diperkenalkan pada sekitar petengahan tahun 1930-an.

Diawal sejarah pembudidayaannya, pengembangbiakan Discus pada awalnya mengacu pada Angel Fish (P. scalare) karena kesamaan dan dekatnya hubungan kedua ikan tersebut, yaitu dengan cara memindahkan telur, menetaskan mereka dalam tempat terpisah kemudian membesarkan burayaknya. Akan tetapi asumsi ini tidak berlaku. karena Discus ternyata diketahui memiliki cara perkembanganbiakkan yang khusus. Pembudidayaan Discus baru "berhasil" pada akhir tahun 1950-an yaitu pada "jaman" Jack Wattley di Amerika dan Eduard Schmidt-Focke di Jerman yang merintis usaha awal pembudidayaan ikan ini.

Pada tahun inilah Discus mulai "ramai" dibicarakan oleh perintis-perintis awal hobiis discus kawakan seperti, selain kedua disebutkan sebelumnya, adalah: Harald Schlutz, Herbet R. Axelrod, Herbet Haertel dll. Pada masa ini tidak jarang ditemukan orang yang frustrasi karena gagal dalam mencoba membudidayakan Dscus, beberapa orang dilaporkan pernah melakukan percobaan bunuh diri, lainnya harus dirawat dibawah pengawasan psiktiater, dan ada pula yang "menghilang". Beberapa orang mengorbankan kolam renangnya sebagai cadangan air bagi discus-nya, yang lain harus merelakan "bath-tube"nya untuk kelangsungah hidup ikan tersebut, dan lain sebagainya. Perjalanan untuk mendapatkan discus di habitat aselinyanyapun, di Amazon, bukan merupakan pekerjaan yang mudah.

Pada tahun 1960, Schultz mendeskripsikan dua sub-spesies Discus lainnya, yaitu: Symphysodon aequifasciata ; S. aequifasciata axelrodi, Discus Coklat dari Belem , dan S. aequifasciata haraldi, Discus Biru, yang ditemukan di dekat Manaus, Brazil. Pengkelasan ini sempat mengundang kontroversi, karena para ahli taksonomi hanya mengakui satu spesies saja, sedang yang dianggap sebagai sub spesies hanyalah disebabkan oleh variasi perbedaan warna yang bersifat regional.

Pada 30 tahun terakhir, berbagai strain Discus telah "dibuat" melalui seleksi di Jerman, Amerika dan Jepang. Disusul kemudian oleh negara-negara lain termasuk Indonesia. Saat ini, berbagai strain Discus dapat ditemui di pasaran dengan harga beragam tergantung pada strain yang bersangkutan.

Apakah Diskus itu?

Diskus berasal dari Amazona (Brazil), bentuk tubuhnya pipih bundar dengan warna dasar coklat kemerahan dengan garis berombak dan beraneka ragam tak teratur mulai dari dahi sampai samping perut. Matanya berwarna merah dan garis tengah tubuhnya paling besar 15 cm. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah ikan ini tidak suka menggangu dan diganggu, oleh sebab itu lebih senang menyendiri atau mengelompok dengan sejenisnya.

Untuk memilih jenis kelamin ikan diskus masih sulit, cara yang terbaik adalah dengan memelihara sekawanan diskus sejak kecil. Setelah berumur 15-20 bulan diskus akan memilih pasangannya sendiri. Pasangan tersebut kita ambil dan dipindahkan untuk dipijahkan.

Pemijahan :
Sediakan akuarium berukuran75x35x35 cm.
Suhu air antara 28°C-30oC dan usahakan pHnya antara 5-6. Air dapat diambil dari sumur PAM yang telah diendapkan selama 24 jam.
Pasang filter dan aerator.
Masukkan induk diskus yang telah berpasangan.
Sediakan paralon/pot di dalam akuarium untuk menempelkan telur.

lnduk yang telah matang telur akan menempelkan telumya pada paralon/pot yang telah disediakan, telur yang baik akan menetas setelah 60 jam. Kemudian larvanya akan dibersihkan dan dipindahkan ke tempat yang aman dan bersih oleh induknya. Setelah 3-4 hari larva ini sudah dapat berenang dan mulai saat ini tubuh si induk akan digelayuti anaknya sambil menghisap lendir di sekujur tubuh induknya sebagai makanan utama. Kemudian setelah berumur 1 minggu anak diskus bisa diberi makanan berupa kutu atau larva artemia. Baru pada umur 1 bulan kita pisahkan dari induknya dan dipindahkan ke tempat lain yang lebih luas atau akuarium ukuran 120x50x50 cm, agar dapat digunakan untuk pemeliharaan selanjutnya.

Keterangan gambar : Discus Cihlids (Symphysodon spp.)




Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Ngomongin Diskus Nyok!

T : Kalau majang diskus itu sendiri atau dengan ikan laen?
J : Bisa aja di campur kok asal ikannya ngga galak dan juga ngga bawa bibit penyakit.

T : Aquariumnya pake aquascape atau gundul aja?
J : Pake aquascape aja, diskus kan habitatnya di lingkungan yang banyak tanaman air

T : Gimana cara ngasih makan diskus?
J : sebaiknya pake pakan alami 2-3 kali sehari

T : Strain apa aja yang ada di pasaran?
J : Di pasaran Indonesia ada empat strain diskus sperti Red Pigeon (warna dasar orange bertotol biru), Cobalt (warna dasar seperti pohon mahoni bertotol biru), Blue (warna dasar biru), Marlboro (warna dasar merah dengan garis garis biru),

T : bagaimana dengan kualitas air?
J : Oksigen (2-5ppm), pH (6.5 untuk pemeliharaan dan 6 untuk pemijahan), Suhu (28 – 30 oC), kesadahan (2-4 DH)
T : Apa saja yang perlu diperhatikan dalam pemilihan diskus?
J : Bebas penyakit dan bekas penyakit, sisik tersusun rapi, sirip masih utuh, gerakan harus wajar tidak terlalu tenang dan tidak menghentak hentak, Kedua maT ukurannya harus normal, pada diskus seumuran pilih diskus paling besar di akuarium itu.

T : Berapa padat tebarnya?
J : untuk ukuran 6 – 7 cm maka satu ekor ikan membutuhkan air antara 6 – 7 liter. Makin besar ikan maka kebutuhan air makin besar dan padat tebar semakin jarang.

T : Bagaimana cara memijahkan diskus?
J : supaya tidak terlalu mahal sebaiknya memelihara diskus dari remaja. Bisa dimulai dengan membeli 2 lunis (24 ekor) dan di rawat dalam aquarium 135 Liter. Calon indukan itu akan mencari pasangan masing masing.
T : Membedakan Jantan dan betina bagaimana caranya?
J : betina memiliki bibir yang simetris sedangkan jantan memiliki bibir atas yang lebih menonjol atau memble istilah kerennya, warna diskus jantan relatif lebih menarik dari betina,jantan lebih agresif. Cara paling akurat adalah meilhat alat kelaminnya : diskus jantan alat kelaminya lancip dan diskus betina alat kelaminya bulat.

T : Umur berapa diskus bisa memijah?
J : tergantung strain tapi sebagai patokan biasanya diskus 18 bulan sudah bisa dipijahkan

Kamis, 27 Desember 2007

kedudukan pakan alami


Pakan alami memiliki komposisi gizi yang baik diantaranya protein, lemak, karbohidrat dan mineral. Protein berguna saat proses pertumbuhan dan pengganti sel yang rusak sebagai zat pembangun. Lemak dan karbohidrat berfungsi sebagai pembentuk energy yang akan digunakan tubuh. Vitamin dan mineral akan membantu proses metabolism, mengatur proses fisiologis, membentuk enzim dan hormon serta menjaga kesehahatan tubuh ikan.

Selain itu ikan mengandung berbagai pigmen yang akan memperindah warna ikan hias seperti melanin yang membentuk warna coklat sampai hitam, guanin yang menghasilkan rona cerah pada ikan dankaroten yang membentuk warna merah, kuning, jingga dan mencerahkan warna ikan.

Pakan alami sangat dibutuhkan dunia pembenihan karena pakan alami dapat bergerak aktif dan sehingga mengundang larva ikan untuk memakannya. Pada larva, setelah kuning telur habis perlu diberikan tambahan pakan supaya larva tetap mendapat asupan nutrisi. Masalah yang dihadapi adalah larva belum biasa mendapatkan pakan dan bukaan mulut larva masih sangat kecil. Gerakan yang dibuat pakan alami (contohnya : inforia, Dapnia, Artemia) akan merangsang larva memakannya dan ukurannya yang kecil cocok dengan bukaan mulut larva.

Pada dunia pembesaran pakan alami sering digunakan untuk memacu pertumbuhan ( misalnya cacing sutra ) atau untuk memperbanyak dan memperbaiki kualitas telur (misalnya Bloodworm)

Untuk lebih lanjut silakan search di blog ini

Keunggunalan pakan alami


Keunggulan pakan alami?

1. Tidak Menurunkan Kualitas Air

Hal ini berlaku terutama untuk jenis pakan alami hidup karena berbeda dengan pakan buatan yang akan mengedap di dasar perairan. Pakan buatan yang tersisa akan terurai menjadi Amonia, Nitrit, Nitrat dan lain lain. Proses Penguraian itu membutuhkan Oksigen sehingga kadar Oksigen di perairan akan menurun. Amonia yang dihasilkan adalah senyawa yang sifatnya racun untuk ikan.

2. Tidak Mudah Rusak

Pakan alami yang berbentuk organism hidup relatif lebih tahan lama dan mudah rusak dengan sarat dipeluhara bukan dalam lingkungan yang sesuai dengan habitat aslinya.

3. Mudah Dicerna Ikan

Pakan alami mudah di cerna dalam saluran pencernaan ikan dan mudah di serap oleh usus halus ikan.

4. Cepat Berkembang Biak

Pakan alami sangat cepat berkembang biak di lingkungan yang kaya bahan organik. Sebaiknya perkembangan pakan alami ini juga diawasi supaya tidak lepas control.

red danio - ikan zebra berpendar merah


Keyword : Red danio, Zebra fish, Ikan Zebra, ikan permen

Label : AquaCulture, Akuakultur

ed Zebra Danio (glow in the dark) (FwF Danios Zebra red)

Red Zebra Danio (glow in the dark)

Where do fluorescent zebra fish come from?

Fluorescent zebra fish were specially bred to help detect environmental pollutants. By adding a natural fluorescence gene to the fish, scientists are able to quickly and easily determine when our waterways are contaminated. The first step in developing these pollution detecting fish was to create fish that would be fluorescent all the time. It was only recently that scientists realized the public's interest in sharing the benefits of this research. We call this the GloFishfluorescent fish.

Do fluorescent fish glow?

Fluorescent fish absorb light and then re-emit it. This creates the perception that they are glowing, particularly when shining an ultraviolet light on the fish in a dark room.


How common is the use of fluorescent zebra fish in science?

For over a decade, fluorescent zebra fish have been relied upon by scientists worldwide to better understand important questions in genetics, molecular biology, and vertebrate development. Fluorescent zebra fish have been particularly helpful in understanding cellular disease and development, as well as cancer and gene therapy.

What are the differences between fluorescent zebra fish and other zebra fish?

Aside from their brilliant color, fluorescent zebra fish are the same as other zebra fish in every way. This includes everything from general care and temperature preferences to growth rate and life expectancy.

Does the fluorescence harm the fish?

No. The fish are as healthy as other zebra fish in every way. Scientists breed them by adding a natural fluorescence gene to the fish eggs before they hatch. The fish is born with this unique color, and maintains the color throughout its life. The color is also passed on to their offspring.


What will happen if a fluorescent zebra fish escapes into the waterways?

Zebra fish are tropical fish and are unable to survive in non-tropical environments. They have been sold to pet owners worldwide for more than fifty years. Despite all these years of aquarium ownership, zebra fish are only found in tropical environments, such as their native India .

What if a fluorescent zebra fish is eaten?

Eating a fluorescent zebra fish is the same as eating any other zebra fish. Their fluorescence is derived from a naturally occurring gene and is completely safe for the environment. Just as eating a blue fish would not turn a predator blue, eating a fluorescent fish would not make a predator fluoresce.


Are you going to create more fluorescent fish?

Scientists all around the world are working with fluorescent fish, whether it's to help protect the environment or come up with new disease-fighting drug therapies. As more fluorescent fish become available, they may be offered for sale to the public.

How can buying these fish help in the fight against pollution?

These fish have already existed for several years and were developed to help fight pollution. By breeding these existing fish, we will allow people to have their own fluorescent fish while promoting the beneficial scientific goals behind their development. In fact, a portion of the proceeds from sales will go directly to the lab where these fish were created in order to further their research—research we hope will help to protect the environment and save lives.

Menghindari Kematian Ikan Massal


BUDIDAYA YANG RAMAH LINGKUNGAN STUDY KASUS WADUK CIRATA

Dalam akuakultur atau budidaya perairan, kesehatan lingkungan tempat pemeliharaan ikan merupakan salah satu faktor penentu usaha budidaya menjadi untung atau rugi. Unsur kesehatan lingkungan perairan yang dimaksud seperti polusi dan penyakit.

Khususnya budidaya sistem tertutup, lingkungan perairan yang terpolusi dan berpenyakit memiliki potensi yang sangat besar untuk membunuh ikan secara massal dalam waktu yang singkat. Sistem manajemen budidaya yang baik dan pemeliharaan jenis ikan yang ramah lingkungan diduga merupakan cara terbaik untuk mencegah terjadinya kegagalan usaha akuakultur yang disebabkan oleh kematian ikan secara massal.

Bukti pentingnya kesehatan lingkungan untuk mendukung kesinambungan usaha akuakultur dapat terlihat dalam sistem budidaya jaring apung di Waduk Cirata. Dalam beberapa tahun terakhir ini, berita kematian massal ikan di jaring apung Cirata hampir selalu terdengar, terutama pada saat musim hujan. Suhu air hujan yang lebih rendah daripada suhu perairan menyebabkan terjadinya pergerakan massa air dari dasar perairan ke permukaan (up-welling).

Massa air dari lapisan bawah perairan biasanya memiliki kadar oksigen terlarut yang rendah dan kadar polutan (seperti amonia) yang tinggi. Hal inilah yang sering menyebabkan ikan mati secara mendadak dan massal di Cirata. Karena up-welling terjadi secara alamiah dan tidak selalu merugikan, maka faktor alam ini tidak bisa diultimatum sebagai penyebab kematian ikan secara massal dan mendadak tersebut. Mungkin akan lebih bijaksana bila penyebab massa air lapisan bawah memiliki kandungan oksigen terlarut sangat rendah dan kadar polutan tinggi yang diselidiki.

Bila kita bandingkan kondisi budidaya jaring apung di Cirata dengan yang di Danau Kasumigaura di Jepang, maka ditemukan banyak hal yang sangat berbeda, seperti rasio jumlah unit jaring apung dengan luasan perairan dan tingkat kepadatan ikan dalam jaring apung. Dari segi luasan, Danau Kasumigaura (22.000 ha) adalah sekitar 2,8 kali lebih luas dibandingkan dengan Waduk Cirata (sekitar 7.900 ha). Tetapi, jumlah jaring apung dan tingkat produksi ikan di Cirata adalah jauh lebih banyak.

Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat no. 41 tahun 2002, jumlah jaring apung di Waduk Cirata dibatasi sebanyak 12.000 unit. Namun demikian, sampai pertengahan tahun 2004 jumlah tersebut telah meningkat lebih dari 3 kali lipat, yaitu 39.000 unit (Kompas, 26 Juni 2004). Bila pembatasan jumlah unit jaring apung di Cirata tersebut didasarkan pada daya dukung (carrying capacity) perairan, maka diduga bahwa sudah terjadi kelebihan muatan di Cirata. Selanjutnya, dari data tingkat produksi ikan di Cirata yang mencapai sekitar 78.000 ton per tahun, dibandingkan dengan tingkat produksi ikan di Danau Kasumigaura sekitar 5.000 ton per tahun, juga menunjukkan bahwa muatan Waduk Cirata sudah sangat tinggi.

Karena tingkat kepadatan ikan tinggi, maka dibutuhkan pakan dalam jumlah yang banyak untuk mencapai ukuran panen seperti yang diharapkan dalam jangka waktu tertentu. Bila cara pemberian pakan juga tidak baik, maka jumlah pakan yang tidak dimakan oleh ikan menjadi banyak. Selain itu, bila kualitas pakan yang digunakan kurang bagus, maka banyak unsur nutrisi dari pakan yang hilang sebelum sempat dimakan oleh ikan, atau jumlah unsur nitrogen dan fosfor yang terbuang ke perairan lebih banyak. Telah diketahui bahwa nitrogen dalam bentuk senyawa amonia merupakan racun yang sangat berbahaya bila melebihi batas tertentu. Sedangkan unsur fosfor dapat menyebabkan populasi mikroorganisme menjadi sangat tinggi (blooming)

Selanjutnya, pakan yang tidak sempat dimakan oleh ikan dan jatuh ke dasar perairan akan didekomposisi oleh mikroba, dimana dalam proses dekomposisi ini membutuhkan oksigen. Bila pakan atau bahan pakan yang jatuh ke dasar perairan banyak, maka dibutuhkan oksigen yang banyak juga untuk dekomposisinya. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab rendahnya kadar oksigen terlarut pada massa air lapisan bawah.

Untuk mengatasi masalah kematian massal ikan di Cirata, beberapa cara mungkin bisa ditempuh, seperti mengurangi jumlah unit jaring apung yang ada, menurunkan padat penebaran ikan. Namun demikian kedua faktor ini membutuhkan pengertian dan kerjasama semua pihak, dan juga pengawasan yang ketat. Cara lain yang bisa ditempuh adalah penggunaan pakan ikan yang berkualitas. Pakan ramah lingkungan (environmental-friendly diet) telah berhasil diramu oleh ahli nutrisi Ikan di Universitas Ilmu dan Teknologi Kelautan Tokyo.

Pakan ini dibuat dengan menambahkan asam sitrat atau amino acid-chelated (asam amino yang terikat dengan mineral seperti Zn, Mn dan Cu) sehingga jumlah unsur fosfor yang dilepas ke air menjadi menurun. Dengan menggunakan pakan ikan ini, jumlah unsur fosfor yang tertahan (terakumulasi) di dalam tubuh ikan meningkat sekitar 30% untuk pakan yang ditambahkan asam sitrat atau 16,5% untuk pakan yang disuplementasi dengan amino acid-chelated. Penggunaan pakan ini juga berhasil menurunkan tingkat ekskresi nitrogen oleh ikan, meskipun tidak begitu tinggi.

Khusus untuk masalah polusi amonia yang jauh lebih berbahaya daripada fosfat, baru-baru ini telah dikembangkan strain ikan nila ramah lingkungan melalui pendekatan genetik. Caranya dengan menambah jumlah copy gen pengontrol hormon pertumbuhan ikan nila. Gen yang digunakan adalah berasal dari ikan nila sendiri. Dengan bertambahnya jumlah copy gen ini, aktivitas pertumbuhan jaringan otot ikan meningkat. Dengan kata lain bahwa makanan yang diperoleh sebagian besar digunakan untuk pertumbuhan sel otot, bukan digunakan sebagai sumber energi. Dengan demikian amonia yang dikeluarkan dari tubuh ikan menjadi menurun, yaitu sekitar 30-40% lebih rendah daripada ikan biasa.

Pada sistem pemeliharaan ikan nila secara tertutup (closed ecological recirculating aquaculture system), jumlah nitrogen yang dilepas oleh ikan ke air mencapai 60% dari total nitrogen yang diperoleh dari makanan. Bila ikan ramah lingkungan ini digunakan, maka jumlah nitrogen yang dikeluarkan dari tubuh ikan ke perairan tersebut bisa dikurangi menjadi 36% dari total nitrogen yang diperoleh dari makanan. Pertumbuhan ikan nila ini juga 2-3 kali lebih cepat daripada ikan nila biasa. Bobotnya bisa mencapai sekitar 1,5 kg dalam waktu 7 bulan. Penambahan jumlah copy gen ini juga telah meningkatkan efisiensi penggunaan pakan, sekitar 30% lebih tinggi daripada ikan biasa. Dengan karakter-karakter tersebut, maka pemeliharaan ikan ramah lingkungan ini akan baik bagi linkungan dan juga dapat menambah pendapatan petani ikan.

(Sumber : Simposium Nasional Bioteknologi Dalam Akuakultur, Juli 2006)

Dikutip dari :

DKP.go.id

Rabu, 19 Desember 2007

Budidaya Ikan Bawal (part 2)

PEMBENIHAN IKAN BAWAL AIR TAWAR

( Colossoma macropomum )

I. PENDAHULUAN

Bawal ( Colossoma macropomum ) merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis cukup tinggi. Ikan ini berasal dari Brazil. Pada mulanya ikan bawal diperdagangkan sebagai ikan hias, namun karena pertumbuhannya cepat, dagingnya enak dan dapat mencapai ukuran besar, maka masyarakat menjadikan ikan tersebut sebagai ikan konsumsi. Sebutan lain ikan bawal adalah Gamitama (Peru), Cachama (Venezuela), Red Bally Pacu (Amerika Serikat dan Inggris). Sedangkan di negara asalnya disebut Tambaqui.

Walaupun ketenaran ikan bawal belum dapat disejajarkan dengan komoditas perikanan lainnya, namun permintaan konsumen setiap tahunnya terus meningkat, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Maka tak heran, bila dimasa yang akan datang akan menjadi komoditas unggulan seperti jenis-jenis ikan lainnya.

II. BIOLOGI

  • Secara sistematika ikan bawal termasuk kedalam Genus Chacacoid dan species Colossoma macropomum.
  • Badan agak bulat, bentuk tubuh pipih, sisik kecil, kepala hampir bulat, lubang hidung agak besar, sirip dada di bawah tutup insang, sirip perut dan sirip dubur terpisah, punggung berwarna abu-abu tua, perut putih abu-abu dan merah.
  • Ikan bawal banyak ditemukan di sungai sungai besar seperti Amazon (Brazil), Orinoco (Venezuela). Hidup secara bergerombol di daerah yang airnya tenang.
  • Bawal termasuk ikan karnivora, Giginya tajam namun tidak ganas seperti piranha. Makanan yg disukai pada fase larva adalah Brachionus sp., Artemia sp., dan Moina sp.
  • Induk bawal sudah mulai dapat dipijahkan pada umur 4 tahun bila pertumbuhannya normal dapat mencapai berat 4 kg.
  • Pemijahannya terjadi pada musim penghujan.

Kami juga melayani kegiatan magang atau pelatihan tentang teknik perikanan air tawar....silakan menghubungi kami

III. PEMBENIHAN

A. Pemeliharaan Induk

  • Induk-induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 0,5 kg/m2. Setiap hari diberi pakan tambahan berupa pelet sebanyak 3 prosen dari berat tubuh ikan dan diberikan 3-4 kali sehari. Menjelang musim hujan jumlah pakannya ditambah menjadi 4 prosen. Induk betina yang beratnya 4 kg dapat menghasilkan telur sebanyak +400.000 butir.
  • Tanda Induk yang matang Gonad.
  • Betina: perut buncit, lembek dan lubang kelamin berwarna kemerahanJantan: perut langsing, warna merah dalam ditubuhnya lebih jelas dan bila diurut dari perut kearah kelamin keluar cairan berwarna putih/sperma.

B. Pemijahan.

  • Pemijahan ikan bawal air tawar bisa dilakukan secara Induced Spawning, caranya induk betina disuntik hormon LHRH-a sebanyak 3 ?g/kg atau ovaprim 0,75 ml / kg . Induk jantan menggunakan LHRH-a sebanyak 2 ?g/kg atau ovaprim 0,5 ml/kg. LHRH-a dilarutkan dalam larutan 0,7 % NaCl.
  • Induk betina disuntik dua kali dengan selang waktu 8-12 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 bagian dari dosis total dan penyuntikan kedua 2/3 nya.
  • Induk yang sudah disuntik dimasukkan kedalam bak pemijahan yang dilengkapi dengan hapa. Selama pemijahan air harus tetap mengalir. Pemijahan biasanya terjadi 3 sampai 6 jam setelah penyuntikan kedua.

C. Penetasan

  • Setelah memijah telur-telur diambil menggunakan scope net halus, kemudian telur tersebut ditetaskan didalam akuarium yang telah dilengkapi dengan aerasi dan water heater dengan suhu 27 - 29oC. Kepadatan telur antara 100 - 150 butir/liter, biasanya Telur-telur akan menetas dalam waktu 16 - 24 jam.

D. Pemeliharaan Larva

  • Larva dipelihara dalam akuarium yang sama, namun sebelumnya 3/4 bagian airnya dibuang. Padat penebaran larva 50 - 100 ekor/liter larva yang berumur 4 hari diberi pakan berupa naupli Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva ini berlangsung selama 14 hari. Selama pemeliharaan larva, air harus diganti setiap hari sebanyak 2/3 bagiannya. Setelah berumur 14 hari larva siap ditebar ke kolam pendederan.

E. Pendederan

  • Pendederan ikan bawal dilakukan di kolam yang luasnya antara 500 -1.000 m2. Namun kolam tersebut harus disiapkan seminggu sebelum penebaran benih. Persiapan meliputi pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir.
  • Setelah itu kolam dikapur dengan kapur tohor sebanyak 50 - 100 gram/m2 dan dipupuk dengan pupuk organik dengan dosis 500 gram/m2. Kemudian diisi air.
  • Bila kolam sudah siap, larva diebar pada pagi hari dengan kepadatan 50 - 100 ekor/m2.
  • Setiap hari diberi pakan tambahan berupa pelet halus sebanyak 750 gram/10 ribu ekor larva dengan frekuensi tiga kali sehari.
  • Pemeliharaan di kolam pendederan selama 21 hari.

IV. Penyakit

Penyakit yang pernah ditemukan pada ikan bawal air tawar yang berumur satu bulan antara lain disebabkan oleh parasit, bakteri dan Kapang (Jamur)

Parasit

  • " Ich " Atau " White spot ", biasanya menyerang ikan apabila suhu media pemeliharaan dingin, cara mengatasinya yaitu dengan menaikkan suhu (dengan water heater) sampai kurang lebih 29 derajat Celcius dan pemberian formalin 25 ppm. Pada media pemeliharaannya.
  • Bakteri.

  • Streptococus sp. dan Kurthia sp. cara mengatasinya yaitu dengan menggunakan antibiotik tetrasiklin dengan dosis 10 ppm.
  • Kapang (Jamur)

  • Jamur ini merupakan akibat dari adanya luka yang disebabkan penanganan ( Handling ) yang kurang hati-hati. Cara mengatasinya dengan menggunakan Kalium Permanganat ( PK ) dengan dosis 2-3 ppm.
  • dikutip dari
    http://bbat-sukabumi.tripod.com/biak.html

    Budidaya Ikan Bawal


    • PENDAHULUAN

    Usaha pembesaran dilakukan dengan maksud untuk memperoleh ikan ukuran konsumsi atau ukuran yang disenangi oleh konsumen. Pembesaran ikan bawal dapat dilakukan di kolam tanah maupun kolam permanen, baik secara monokultur maupun polikultur. Bawal air tawar saat ini banyak diminati sebagai ikan konsumsi dan cocok untuk dibudidayakan di Kabupaten Magelang. Ikan Bawal mempunyai beberapa keistimewaan antara lain : Ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologis yang kurang baik. Disamping itu rasa dagingnya pun cukup enak, hampir menyerupai daging ikan Gurami.

    • PERSIAPAN KOLAM

    Kolam untuk pemeliharaan ikan bawal dipersiapkan seperti halnya ikan air tawar lainnya. Persiapan kolam ini dimaksudkan untuk menumbuhkan makanan alami dalam jumlah yang cukup. Setelah dasar kolam benar-benar kering dasar kolam perlu dikapur dengan kapur tohor maupun dolomit dengan dosis 25 kg per 100 meter persegi. Hal ini untuk meningkatkan pH tanah, juga dapat untuk membunuh hama maupun patogen yang masih tahan terhadap proses pengeringan. Kolam pembesaran tidak mutlak harus dipupuk. Ini dikarenakan makanan ikan bawal sebagian besar diperoleh dari makanan tambahan atau buatan. Tapi bila dipupuk dapat menggunakan pupuk kandang 25 - 50 kg/100 m2 dan TSP 3 kg/100 m2. Pupuk kandang yang digunakan harus benar-benar yang sudah matang, agar tidak menjadi racun bagi ikan. Setelah pekerjaan pemupukan selesai, kolam diisi air setinggi 2-3 cm dan dibiarkan selama 2-3 hari, kemudian air kolam ditambah sedikit demi sedikit sampai kedalaman awal 40-60 cm dan terus diatur sampai ketinggian 80-120 cm tergantung kepadatan ikan. Jika warna air sudah hijau terang, baru benih ikan ditebar (biasanya 7~10 hari setelah pemupukan).

    • PEMILIHAN DAN PENEBARAN BENIH.

    Pemilihan benih. Pemilihan benih mutlak penting, karena hanya dengan benih yang baik ikan akan hidup dan tumbuh dengan baik. Penebaran benih Sebelum benih ditebar perlu diadaptasikan, dengan tujuan agar benih ikan tidak dalam kondisi stres saat berada dalam kolam. Cara adaptasi : ikan yang masih terbungkus dalam plastik yang masih tertutup rapat dimasukan kedalam kolam, biarkan sampai dinding plastik mengembun. Ini tandanya air kolam dan air dalam plastik sudah sama suhunya, setelah itu dibuka plastiknya dan air dalam kolam masukkan sedikit demi sedikit kedalam plastik tempat benih sampai benih terlihat dalam kondisi baik. Selanjutnya benih ditebar/dilepaskan dalam kolam secara perlahan-lahan.

    • KUALITAS PAKAN DAN CARA PEMBERIAN

    Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral. Karena ikan bawal bersifat omnivora maka makanan yang diberikan bisa berupa daun-daunan maupun berupa pelet. Pakan diberikan 3-5 % berat badan (perkiraan jumlah total berat ikan yang dipelihara). Pemberian pakan dapat ditebar secara langsung.

    • PEMUNGUTAN HASIL

    Pemungutan hasil usaha pembesaran dapat dilakukan setelah ikan bawal dipelihara 4-6 bulan, waktu tersebut ikan bawal telah mencapai ukuran kurang lebih 500 gram/ekor, dengan kepadatan 4 ekor/m 2 . Biasanya alat yang digunakan berupa waring bemata lebar. Ikan bawal hasil pemanenan sebaiknya penampungannya dilakukan ditempat yang luas (tidak sempit) dan keadaan airnya selalu mengalir.



    dikutip dari :

    http://dinaskukm.jakarta.go.id/info.php?id=5

    Fish farming




    Main article: Fish farming

    Fish farming is the principal form of aquaculture, while other methods may fall under mariculture. It involves raising fish commercially in tanks or enclosures, usually for food. A facility that releases juvenile fish into the wild for recreational fishing or to supplement a species' natural numbers is generally referred to as a fish hatchery. Fish species raised by fish farms include salmon, catfish, tilapia, cod, carp, trout and others.

    Increasing demands on wild fisheries by commercial fishing operations have caused widespread overfishing. Fish farming offers an alternative solution to the increasing market demand for fish and fish protein.

    Algaculture

    from : Wikipedia.org

    Main article: Algaculture
    An open pond Spirulina farm
    An open pond Spirulina farm

    Algaculture is a form of aquaculture involving the farming of species of algae. The majority of algae that are intentionally cultivated fall into the category of microalgae, also referred to as phytoplankton, microphytes, or planktonic algae.

    Macroalgae, commonly know as seaweed, also have many commercial and industrial uses, but due to their size and the specific requirements of the environment in which they need to grow, they do not lend themselves as readily to cultivation on a large scale as microalgae and are most often harvested wild from the ocean.

    Senin, 17 Desember 2007

    Budidaya Ikan Mas Koki Mutiara

    BUDIDAYA IKAN HIAS MAS KOKI MUTIARA

    1. PENDAHULUAN
    Ikan koki mutiara merupakan jenis ikan mas yang mempunyai tubuh bulat dengan kepala kecil dan ekor lebar. Ikan ini berasal dari daratan cina, namun di Indonesia sudah lama dapat dibudidayakan.
    Pemasaran ikan ini selain di dalam negeri juga merupakan jenis ikan yang di eksport dan harganyapun cukup tinggi.
    2. PEMIJAHAN

    1)

    Pemilihan induk

    a.

    Induk yang baik untuk dipijahkan sudah berumur + 8 bulan, dengan ukuran minimum sebesar telur itik.
    b. Pilih induk yang berkepala kecil dengan tubuh bulat, sisik utuh dan tersusun rapih. Jika ikan sedang bergerak, ekor dan sirip akan kelihatan tegak.
    c. Untuk mendapatkan keturunan yang berwarna, maka calon induk yang akan dipijahkan berwarna polos. Gunakan induk jantan berwarna putih dan betina berwarna hitam atau hijau lumut atau sebaliknya.

    2)

    Perbedaan jantan dan betina
    INDUK JANTAN
    INDUK BETINA
    Pada sirip dada terdapat bintik-bintik bulat menonjol dan jika diraba terasa kasar.
    Pada sirip dada terdapat bintik-bintik dan terasa halus jika diraba.
    Induk yang telah matang jika diurut pelan kerarah lubang genital akan keluar cairan berwarna putih Jika diurut, keluar cairan kuning bening. Pada induk yang telah matang, perut terasa lembek dan lubang genital kemerah-merahan.
    3) Cara pemijahan

    a.

    Bak/aquarium yang telah bersih diisi dengan air yang telah diendapkan + 24 jam, kemudian letakkan eceng gondok untuk melekatkan telurnya.
    b. Pilihlah induk yang telah matang telur, masukkan kedalam bak pada sore hari. Bila pemilihan induk dilakukan dengan cermat, biasanya keesokan harinya telur sudah menempel pada akar eceng gondok.
    c. Karena telur tidak perlu dierami, induk dapat segera dipindahkan ke kolam penampungan induk, untuk menunggu sampai saat pemijahan berikutnya. Jika perawatannya baik, maka 3 ~ 4 minggu kemudian induk sudah dapat dipijahkan kembali.
    3. PEMELIHARAAN BENIH

    1)

    Setelah 2 ~ 3 hari telur akan menetas, sampai berumur 2 ~ 3 hari benih belum diberi makan, karena masih mempunyai persediaan makanan pada yolk sac-nya (kuning telur).

    2) Pada hari ke 3 ~ 4 benih sudah dapat diberi makanan kutu air yang telah disaring.
    3) Setelah berumur + 15 hari benih mulai dicoba diberi cacing rambut disamping masih diberi kutu air, sampai benih keseluruhannya mampu memakan cacing rambut baru pemberian kutu air dihentikan.
    4) Untuk telur yang ditetaskan di aquarium maka sebainya setelah benih berumur + 1 minggu dipindahkan ke bak/kolam yang lebih luas.
    5) Ketinggian air dalam bak 10 ~ 15 cm dengan pergantian air 5 ~ 7 hari sekali. Setiap pergantian air gunakan air yang telah diendapkan lebih dahulu.
    6) Untuk menghindari sinar matahari yang terlalu terik diperlukan beberapa tanaman pelindung berupa eceng gondok.
    4. PEMBESARAN

    1)

    Pembesaran ikan dilakukan setelah benih berumur lebih dari 1 bulan sampai induk.

    2) Jenis koki mutiara ini memerlukan banyak sinar matahari, untuk itu tanaman eceng gondok dapat dikurangi atau dihilangi.
    3) Untuk tahap pertama pembesaran dapat ditebar + 1.000 ekor ikan dalam bak berukuran 1,5 x 2 m. Kemudian penjarangan dapat dilakukan setiap 2 minggu dengan dibagi 2.
    4) Pergantian air dapat dilakukan 3 ~ 5 hari sekali, juga dengan air yang telah diendapkan.
    5) Makanan yang diberikan berupa cacing rambut. Makanan diberikan pada pagi hari secara adlibitum (secukupnya). Jika pada sore hari makanan masih tersisa, segera diangkat/dibersihkan.
    6) Setelah berumur 4 bulan ikan sudah merupakan calon induk. Untuk itu jantan dan betina segera dipisahkan sampai berumur 8 bulan yang telah siap dipijahkan. Untuk induk ikan sebaiknya makanan yang diberikan yaitu berupa jentik nyamuk (cuk).
    7) Sepasang induk dapat menghasilkan telur 2.000 s/d 3.000 butir untuk sekali pemijahan.
    5. PENUTUP
    Ikan mas koki mutiara mempunyai nilai ekonimis tinggi. Untuk benih berumur 1 bulan harganya berkisar Rp. 30,- s/d Rp. 50,- sedangkan sepasang induk berkisar Rp. 5.000,- s/d 10.000,-

    Dengan cara pemeliharaan yang tepat disertai ketekunan dapat diharapkan penghasilan yang lumayan.
    6. SUMBER
    Dinas Perikanan DKI Jakarta, Jakarta, 1996
    7. KONTAK HUBUNGAN
    Dinas Perikanan DKI Jakarta

    dikutip dari :
    http://warintek.bantul.go.id/web.php?mod=basisdata&kat=1&sub=3&file=65
    Google