Senin, 07 Januari 2008

DISKUS, SEVERUM, RAINBOW, NIASA

TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PENGENALAN JENIS IKAN HIAS

(DISKUS, SEVERUM, RAINBOW, NIASA)

1. PENDAHULUAN

Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat DKI Jakarta khususnya petani ikan/nelayan telah ditempuh berbagai cara diantaranya memanfaatkan lahan pekarangan dengan usaha pemeliharaan ikan hias. Jumlah ikan hias khususnya ikan hias air tawar yang susah dapat dibudidayakan di Indonesia ada 91 jenis. Dari ke 91 jenis ikan tersebut, ada beberapa jenis ikan hias tersebut yang sangat potensial untuk dikembangakan karena selain dapat dipasarkan didalam negeri juga dapat merupakan komoditas eksport. Jenis-jenis ikan hias yang potensial tersebut antara lain ikan Diskus, Severum, Rainbow, dan Niasa. Untuk lebih mengenal jenis ikan tersebut pada Bab selanjutnya akan dikemukanan sifat dari ikan-ikan tersebut.

2. JENIS IKAN HIAS

  1. Diskus
    Ikan hias Diskus (Symhysodonodiscus) merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang berasal dari sungai Amazon (Brasil). Jenis ikan tersebut mempunyai nilai ekonomis yang baik dan sangat disenangi di berbagai negara. Di Indonesia ikan Diskus sudah dapat dibudidayakan dan sangat potensil untuk dikembangkan karena selain dapat dipasarkan dipasaran lokal, juga dapat merupakan komoditas ekspor. Ciri khas dari ikan diskus ialah benetuk badannya tubuh pipih, bundar mirip ikan bawal dengan warna dasar coklat kemerah-merahan. Ikan diskus dapat dibudidayakan didalam Aquarium untuk sepasang diskus dapat ditempatkan dalam aquarium berukuran sekitar 75 x 35 x 35 cm kwalitas yang diperlukan untuk hidup dan berkembang ikan diskus yaitu di air yang jernih, temperatur sekitar 28 - 30 ° C pH (derajat keasaman) 5 - 6 selain itu kandungan Oksigen terlarutnya harus cukup tinggi yaitu + lebih besar dari 3 ppm (pxrt per million). Ikan Diskus sudah dapat dikembangbiakan setelah berumur antara 15 - 20 bulan. Adapun makanan yang umum dengan makan yaitu kutu air, cuk, cacing (makanan buatan) yang ada dipasaran.
  2. Severum
    Ikan severum Cichlosoma severum adalah salah satu jenis ikan hias air tawar yang berasal dari Amerika Serikat bagian Utara (S. Arhazone). Tubuhnya pendek, gemuk dan gepeng dengan warna dasar tubuh bervariasi yaitu coklat kekuningan, atau hitam kecoklatan. Jenis ikan ini juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Ikan Severum dapat dipelihara didalam aquarium atau bak semen kwalitas air yang diperlukan untuk pemeliharaan ikan severum yaitu: PH. : 5,5 - 7, temperatur air 21 - 25°C. Ikan Severum sudah dapat dipijahkan setelah berumur + tahun dengan ukuran 12 - 15 cm. Induk jantan dari betina dapat dibedakan dari warna dan ukuran induk jantan berwarna lebih cerah dengan induk yang lebih besar dari betina. Makanan yang dapat diberikan jenis ikan ini antara lain: kutu air, cuk, cacing sutera dll.
  3. Ikan Rainbow
    Ikan Rainbow merupakan jenis ikan hias yang banyak diminati masyarakat karena jenis ikan ini juga dapat merupakan komoditi eksport. Ada 2 jenis rainbow yang cukup terkenal yaitu rainbow Irian (Melano Tacnia maccaulochi dan Rainbow Anlanesi ogilby Telmatherina ladigesi ahl Rainbow Irian warna dasarnya keperak-perakan dengan warna gelap metalik sedangkan rainbow Sulawesi warna dasarnya kuning zaitun, dengan warna bagian bawah kuning jenis ikan ini termasuk ikan bertelur dengan menempelkan telur pada tanaman air. Kwalitas air yang diperlukan untuk kehidupan jenis ikan ini yaitu temperatur air 23 - 26 ° C. Ph. air sebaiknya diatas 7. Jenis ikan ini dapt hidup dan berkembang-biak dalam aquarium maupun bak semen. Ikan ini sudah dapat memijah setelah berumur + 7 bulan dalam ukuran 5 - 7 cm. Makanan yang biasa diberikan dalam pemeliharaan ikan ini yaitu kutu air, cacing zambut atau cuk. Supaya ikan dapat tumbuh dengan baik selama pemeliharaan bertelur, air harus klop memenuhi persyaratan dan dilakukan penggantian air + 1 minggu 1 kali.
  4. Ikan Niasa
    Psedatropheus auratus Bonlenger atau nama Inggris Auratus. Di DKI jakarta lebih dikenal dengan nama Niasa jenis ikan ini mempunyai tubuh memanjang agak datar, warna dasar kuning keemasan cerah atau hitam pekat. Ikan Niasa sangat agresif gerakannya sehingga harus hati-hati kalau akan dicampur dengan jenis ikan lain. Kwalitas air yang diperlukan untuk hidup dan berkembang ikan Niasa yaitu pH = 7, temperatur 24 - 27°C. Pemeliharaan dapat dilakukan didalam bak semen atau aquarium. Ketinggian air yang diperlukan untuk pemijahan sekitar 30 - 35 cm. Ikan Niasa sudah dapat memijahkan dalam umur 7 bulan dengan ukuran panjang tubuh : 7 cm. Induk jantan dan betina dapat dibedakan dari totol kuning sirip anusnya. Ikan jantan biasanya memiliki totol-totol in, sementara si betina tidak. Makanan yang diberikan antara lain : Cuk, kutu air.

3. SUMBER

Dinas Perikanan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta, 1996

4. KONTAK HUBUNGAN

Pemerintah DKI Jakarta, Dinas Perikanan

Cerita orang yang membudidayakan Diskus

Produktif atau Tidak, Tetap Disayang

Hampir dua tahun ini Yusni dikerjai ikan-ikannya. ''Mereka tidak mau produksi,'' katanya sambil memandangi puluhan ikan diskus yang berseliweran di akuariumnya.

Selama dua tahun terakhir ini, dr Ida Yusni Solichin disibukkan urusan remaja yang kecanduan narkoba. Buntutnya, ikan-ikan diskus warna-warni yang biasa diajak bercengkerama tiap pagi dan petang sepulang kantor pun mungkin merasa diabaikan.
''Mereka ngambek, tidak mau menghasilkan,'' katanya,''Bertelur saja ogah, apalagi menggendong anak.'' Akibatnya, dalam kurun waktu itu, tak ada perkembangbiakan yang berarti.

Bukan maksud Yusni memanjakan. Ikan air tawar asal Sungai Amazon, Brazil ini tergolong ikan sensitif dan mungkin juga suka 'gaul'. Bila diajak berkomunikasi, ia akan lebih aktif melenggak-lenggok.

Ikan bulat pipih itu dinamai diskus karena bentuknya seperti cakram. Sekarang, jumlah diskus Yusni sebanyak 22 pasang aneka warna yang terdiri dari jenis-jenis Marlboro, Blue Diamond, Solid Blue, Solid Red, Pigeon Blood, Cobalt, Snake Skin. Ikan-ikan itu menghuni akuarium di ruangan khusus yang terang dan bersih.

Untuk 'rumah' bagi akuarium itu, Yusni dan suaminya, M Solichin, sengaja membongkar taman di samping rumah di kawasan Utan Kayu, Jakarta. ''Sengaja dibuatkan ruangan untuk mereka,'' tutur ibu tiga anak yang kini menjabat Kasubdit Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial itu.

Monogami
Yusni dan Solichin memang penggemar ikan. Mereka berdua juga gemar memancing dan mengikuti berbagai lomba. Sedangkan urusan pemeliharaan ikan diawali suami Yusni dari ikan cupang yang populer sebagai ikan aduan.

Diskus mulai memasuki kehidupan keluarga ini pada tahun 1980-an. Kala itu ikan ini belum lagi populer. Ia membeli 10 ekor jenis Cobalt di Setiabudi, Jakarta. ''Saya ingat betul, dulu masih mahal, harganya Rp 15.000-an,'' kenang Yusni. Jenis yang sama sekarang Rp 2.500.

Untuk lima pasang ikan itu dibuatkan lima akuarium. Mereka pun beranak-pinak sampai ia harus menambah lima akuarium lagi. Suatu hari ada seseorang yang menanyakan apakah Yusni ingin menjual ikan-ikannya. Ia sempat terheran-heran. ''Ternyata laku juga,'' katanya.

Rupiah pun mengucur dari akuarium-akuarium itu. Tiap bulannya, dari sekitar 20-an pasang bisa menghasilkan 500 diskus. Ikan itu diambil eksportir untuk dikirim ke Belanda, AS, dan Singapura. ''Di Singapura ikan itu disortir, dijual lebih mahal,'' katanya. Ia sendiri menjual seharga Rp 20.000-an, untuk Blue Diamond.

Ia mengakui, bila bisnis diskus ini ditekuni, hasilnya lebih besar dari praktek dokter. ''Tapi, ini hobi, bukan bisnis,'' katanya. Itulah sebabnya, meskipun saat ini ikan-ikannya tidak berproduksi, Yusni tetap merawat mereka baik-baik.

Untuk itu pula, psikiater di Rumah Sakit Afia, Jakarta Pusat ini tak segan mengeluarkan sekitar Rp 400.000 untuk makanan ikan. Dengan waktu makan tiga kali sehari, melahap larva blood worm sebanyak 6 ons.

Ikan-ikannya boleh jadi tengah macet berproduksi besar-besaran, tapi Yusni punya rencana lain. Ia ingin menghasilkan ikan dengan warna-warna baru. Salah satunya, ia ingin menghasilkan polos kuning dengan menjodohkan Marlboro dengan Si Blue Diamond. ''Kalau bisa jadi harganya mahal, Rp 10 juta,'' kata bendahara Kelompok Diskus Indonesia, organisasi yang beranggota sekitar 100 orang ini.

Tak cuma warna. Diskus pun dinilai dari rupanya. Semakin bagus dia bila bentuknya semakin mirip cakram. ''Jadi, mulutnya tidak mencuat,'' jelas wanita yang gemar bercocok tanam dan juga menyulam ini.

Menjodohkan diskus, diakuinya, susah-susah gampang. Pasalnya, ikan ini sensitif dan monogamis. Bila pasanganya mati, ia tak mudah pindah 'ke lain hati'. Walhasil, saat diberi pasangan baru, ia marah. ''Pasangan barunya dipukul-pukul pakai ekornya,'' jelas Yusni.

Sekali bertelur, seekor ikan bisa menghasilkan 200 hingga 300. Namun, tak semuanya jadi. Bila telur yang dibuahi menetas, ikan-ikan kecil akan menempel pada tubuh ikan betina. Sebab, ikan muda makan lendir pada tubuh ikan dewasa itu. Namun, seringkali ikan betina itu menyantap ikan-ikan kecil yang menumpang pada badannya.

Untuk menjaga kesehatan ikan-ikannya, air akuarium harus diganti tiap harinya. Airnya pun harus dibersihkan lebih dulu dari kaporit. Kotoran ikan pun harus segera disingkirkan dengan alat penyedot.

Bila dibiarkan, kotoran yang mengandung amoniak ini bisa menghambat pertumbuhan ikan. ''Ikan-ikan itu jadi kerdil,'' katanya. Malam hari pun bukan halangan baginya untuk menyedot kotoran yang menempel di dasar akuarium.

Ikan-ikan Yusni memang indah. Namun, jangan berharap bisa duduk menikmatinya di ruang akuarium. Ruangan berukuran 3x4 meter itu panas dan pengap. Maklum, lubang-lubang anginnya ditutup. ''Udaranya disesuaikan kebutuhan ikan,'' katanya. Diskus yang umurnya bisa mencapai 4 tahun ini membutuhkan suhu 25-27 derajat Celcius.

Yusni mengaku memperoleh ketenangan dari hobi merawat ini. ''Mereka itu indah, gerakannya gemulai, warnanya cantik,'' ujarnya sambil menggerakkan tangannya dengan halus, menirukan gerak peliharaannya.

Ia percaya, memandangi ikan-ikan peliharaan itu bisa mempengaruhi karakter si pemilik. ''Bisa menimbulkan ketenangan.''
Lain halnya, katanya, dengan ikan arwana. ''Dia gagah berani, mencaplok mangsanya dengan tenang. Biasanya mempengaruhi sifat kita, dalam bisnis mencaplok-caplok ha...ha...ha...''
poy ()

Berbagai Strain Diskus


Gold Diamond


Red Marlboro


Pearl Pigeon


Blue


MarlBoro


Red Pigeon


Snake Fin



Red Ribbon

Sejarah Singkat diskus

 
Sebutan Discus bagi ikan ini mengacu pada bentuk tubuhnya yang menyerupai lempengan piring (disk) yang berdiri tegak. Discus termasuk dalam famili Cichlidae, dan tergolong dalam genus Symphysodon. Symphysodon berarti "memiliki gigi pada bagian tengah rahang".

Discus yang pertama kali dikenal adalah Symphysodon discus heckel. Deskripsinya ditulis oleh Heckel pada tahun 1840. Jenis ini dikenal sebagai "Discus Sejati". Discus Heckel berbeda dengan Discus lainnya. Jenis ini memiliki tiga garis vertikal yang lebih jelas,yaitu baris pertama yang melewati kepala, baris kelima yang melewati bagian tengah tubuh, dan garis ke sembilan atau garis ekor. Selain itu S. discus diselimuti oleh marking biru bergelombang pada bagian samping tubuhnya. S.discus berasal dari Rio Negro dan anak-anak sungainya.

Symphysodon aequifasciata aequifasciata, dikenal sebagai Discus Hijau,dideskripsikan pertama kali oleh Pellegrin pada tahun 1904. Ikan ini merupakan jenis Discus kedua yang "ditemukan". Mereka ditemukan di Danau Tefe dan Peruvian Amazonia. Selama tigapuluh tahun kemudian ikan ini terlupakan dan baru dikenal oleh para hobiis setelah diperkenalkan pada sekitar petengahan tahun 1930-an.

Diawal sejarah pembudidayaannya, pengembangbiakan Discus pada awalnya mengacu pada Angel Fish (P. scalare) karena kesamaan dan dekatnya hubungan kedua ikan tersebut, yaitu dengan cara memindahkan telur, menetaskan mereka dalam tempat terpisah kemudian membesarkan burayaknya. Akan tetapi asumsi ini tidak berlaku. karena Discus ternyata diketahui memiliki cara perkembanganbiakkan yang khusus. Pembudidayaan Discus baru "berhasil" pada akhir tahun 1950-an yaitu pada "jaman" Jack Wattley di Amerika dan Eduard Schmidt-Focke di Jerman yang merintis usaha awal pembudidayaan ikan ini.

Pada tahun inilah Discus mulai "ramai" dibicarakan oleh perintis-perintis awal hobiis discus kawakan seperti, selain kedua disebutkan sebelumnya, adalah: Harald Schlutz, Herbet R. Axelrod, Herbet Haertel dll. Pada masa ini tidak jarang ditemukan orang yang frustrasi karena gagal dalam mencoba membudidayakan Dscus, beberapa orang dilaporkan pernah melakukan percobaan bunuh diri, lainnya harus dirawat dibawah pengawasan psiktiater, dan ada pula yang "menghilang". Beberapa orang mengorbankan kolam renangnya sebagai cadangan air bagi discus-nya, yang lain harus merelakan "bath-tube"nya untuk kelangsungah hidup ikan tersebut, dan lain sebagainya. Perjalanan untuk mendapatkan discus di habitat aselinyanyapun, di Amazon, bukan merupakan pekerjaan yang mudah.

Pada tahun 1960, Schultz mendeskripsikan dua sub-spesies Discus lainnya, yaitu: Symphysodon aequifasciata ; S. aequifasciata axelrodi, Discus Coklat dari Belem , dan S. aequifasciata haraldi, Discus Biru, yang ditemukan di dekat Manaus, Brazil. Pengkelasan ini sempat mengundang kontroversi, karena para ahli taksonomi hanya mengakui satu spesies saja, sedang yang dianggap sebagai sub spesies hanyalah disebabkan oleh variasi perbedaan warna yang bersifat regional.

Pada 30 tahun terakhir, berbagai strain Discus telah "dibuat" melalui seleksi di Jerman, Amerika dan Jepang. Disusul kemudian oleh negara-negara lain termasuk Indonesia. Saat ini, berbagai strain Discus dapat ditemui di pasaran dengan harga beragam tergantung pada strain yang bersangkutan.

Apakah Diskus itu?

Diskus berasal dari Amazona (Brazil), bentuk tubuhnya pipih bundar dengan warna dasar coklat kemerahan dengan garis berombak dan beraneka ragam tak teratur mulai dari dahi sampai samping perut. Matanya berwarna merah dan garis tengah tubuhnya paling besar 15 cm. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah ikan ini tidak suka menggangu dan diganggu, oleh sebab itu lebih senang menyendiri atau mengelompok dengan sejenisnya.

Untuk memilih jenis kelamin ikan diskus masih sulit, cara yang terbaik adalah dengan memelihara sekawanan diskus sejak kecil. Setelah berumur 15-20 bulan diskus akan memilih pasangannya sendiri. Pasangan tersebut kita ambil dan dipindahkan untuk dipijahkan.

Pemijahan :
Sediakan akuarium berukuran75x35x35 cm.
Suhu air antara 28°C-30oC dan usahakan pHnya antara 5-6. Air dapat diambil dari sumur PAM yang telah diendapkan selama 24 jam.
Pasang filter dan aerator.
Masukkan induk diskus yang telah berpasangan.
Sediakan paralon/pot di dalam akuarium untuk menempelkan telur.

lnduk yang telah matang telur akan menempelkan telumya pada paralon/pot yang telah disediakan, telur yang baik akan menetas setelah 60 jam. Kemudian larvanya akan dibersihkan dan dipindahkan ke tempat yang aman dan bersih oleh induknya. Setelah 3-4 hari larva ini sudah dapat berenang dan mulai saat ini tubuh si induk akan digelayuti anaknya sambil menghisap lendir di sekujur tubuh induknya sebagai makanan utama. Kemudian setelah berumur 1 minggu anak diskus bisa diberi makanan berupa kutu atau larva artemia. Baru pada umur 1 bulan kita pisahkan dari induknya dan dipindahkan ke tempat lain yang lebih luas atau akuarium ukuran 120x50x50 cm, agar dapat digunakan untuk pemeliharaan selanjutnya.

Keterangan gambar : Discus Cihlids (Symphysodon spp.)




Hak Cipta 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Ngomongin Diskus Nyok!

T : Kalau majang diskus itu sendiri atau dengan ikan laen?
J : Bisa aja di campur kok asal ikannya ngga galak dan juga ngga bawa bibit penyakit.

T : Aquariumnya pake aquascape atau gundul aja?
J : Pake aquascape aja, diskus kan habitatnya di lingkungan yang banyak tanaman air

T : Gimana cara ngasih makan diskus?
J : sebaiknya pake pakan alami 2-3 kali sehari

T : Strain apa aja yang ada di pasaran?
J : Di pasaran Indonesia ada empat strain diskus sperti Red Pigeon (warna dasar orange bertotol biru), Cobalt (warna dasar seperti pohon mahoni bertotol biru), Blue (warna dasar biru), Marlboro (warna dasar merah dengan garis garis biru),

T : bagaimana dengan kualitas air?
J : Oksigen (2-5ppm), pH (6.5 untuk pemeliharaan dan 6 untuk pemijahan), Suhu (28 – 30 oC), kesadahan (2-4 DH)
T : Apa saja yang perlu diperhatikan dalam pemilihan diskus?
J : Bebas penyakit dan bekas penyakit, sisik tersusun rapi, sirip masih utuh, gerakan harus wajar tidak terlalu tenang dan tidak menghentak hentak, Kedua maT ukurannya harus normal, pada diskus seumuran pilih diskus paling besar di akuarium itu.

T : Berapa padat tebarnya?
J : untuk ukuran 6 – 7 cm maka satu ekor ikan membutuhkan air antara 6 – 7 liter. Makin besar ikan maka kebutuhan air makin besar dan padat tebar semakin jarang.

T : Bagaimana cara memijahkan diskus?
J : supaya tidak terlalu mahal sebaiknya memelihara diskus dari remaja. Bisa dimulai dengan membeli 2 lunis (24 ekor) dan di rawat dalam aquarium 135 Liter. Calon indukan itu akan mencari pasangan masing masing.
T : Membedakan Jantan dan betina bagaimana caranya?
J : betina memiliki bibir yang simetris sedangkan jantan memiliki bibir atas yang lebih menonjol atau memble istilah kerennya, warna diskus jantan relatif lebih menarik dari betina,jantan lebih agresif. Cara paling akurat adalah meilhat alat kelaminnya : diskus jantan alat kelaminya lancip dan diskus betina alat kelaminya bulat.

T : Umur berapa diskus bisa memijah?
J : tergantung strain tapi sebagai patokan biasanya diskus 18 bulan sudah bisa dipijahkan

Sabtu, 05 Januari 2008

Chatting Di HP

What is mig33?

Mig33 is a global mobile community that lets you keep in touch with friends and family through a variety of online services, right on your mobile phone.

With mig33, you can chat and send instant messages and emails, make inexpensive international phone calls, share photos, connect with old friends and even meet new ones. Think of it as an addition to your phone's existing service.
What you get with mig33

Suddenly, you'll have an array of services to help you stay connected and save money, all in the palm of your hand.
Community
Chatrooms
Profiles
Photo Sharing
Mobile Web
Rewards for inviting friends
And more
Connectivity
Use your IM (MSN, Yahoo!, ICQ , AOL, Google Talk, SMS, to name a few)
Share Photos
Make inexpensive international phone calls
Send cheap international SMS
And more

With mig33 your phone becomes much more than just a phone.

Yes, that's your phone

Kamis, 27 Desember 2007

kedudukan pakan alami


Pakan alami memiliki komposisi gizi yang baik diantaranya protein, lemak, karbohidrat dan mineral. Protein berguna saat proses pertumbuhan dan pengganti sel yang rusak sebagai zat pembangun. Lemak dan karbohidrat berfungsi sebagai pembentuk energy yang akan digunakan tubuh. Vitamin dan mineral akan membantu proses metabolism, mengatur proses fisiologis, membentuk enzim dan hormon serta menjaga kesehahatan tubuh ikan.

Selain itu ikan mengandung berbagai pigmen yang akan memperindah warna ikan hias seperti melanin yang membentuk warna coklat sampai hitam, guanin yang menghasilkan rona cerah pada ikan dankaroten yang membentuk warna merah, kuning, jingga dan mencerahkan warna ikan.

Pakan alami sangat dibutuhkan dunia pembenihan karena pakan alami dapat bergerak aktif dan sehingga mengundang larva ikan untuk memakannya. Pada larva, setelah kuning telur habis perlu diberikan tambahan pakan supaya larva tetap mendapat asupan nutrisi. Masalah yang dihadapi adalah larva belum biasa mendapatkan pakan dan bukaan mulut larva masih sangat kecil. Gerakan yang dibuat pakan alami (contohnya : inforia, Dapnia, Artemia) akan merangsang larva memakannya dan ukurannya yang kecil cocok dengan bukaan mulut larva.

Pada dunia pembesaran pakan alami sering digunakan untuk memacu pertumbuhan ( misalnya cacing sutra ) atau untuk memperbanyak dan memperbaiki kualitas telur (misalnya Bloodworm)

Untuk lebih lanjut silakan search di blog ini

Keunggunalan pakan alami


Keunggulan pakan alami?

1. Tidak Menurunkan Kualitas Air

Hal ini berlaku terutama untuk jenis pakan alami hidup karena berbeda dengan pakan buatan yang akan mengedap di dasar perairan. Pakan buatan yang tersisa akan terurai menjadi Amonia, Nitrit, Nitrat dan lain lain. Proses Penguraian itu membutuhkan Oksigen sehingga kadar Oksigen di perairan akan menurun. Amonia yang dihasilkan adalah senyawa yang sifatnya racun untuk ikan.

2. Tidak Mudah Rusak

Pakan alami yang berbentuk organism hidup relatif lebih tahan lama dan mudah rusak dengan sarat dipeluhara bukan dalam lingkungan yang sesuai dengan habitat aslinya.

3. Mudah Dicerna Ikan

Pakan alami mudah di cerna dalam saluran pencernaan ikan dan mudah di serap oleh usus halus ikan.

4. Cepat Berkembang Biak

Pakan alami sangat cepat berkembang biak di lingkungan yang kaya bahan organik. Sebaiknya perkembangan pakan alami ini juga diawasi supaya tidak lepas control.

red danio - ikan zebra berpendar merah


Keyword : Red danio, Zebra fish, Ikan Zebra, ikan permen

Label : AquaCulture, Akuakultur

ed Zebra Danio (glow in the dark) (FwF Danios Zebra red)

Red Zebra Danio (glow in the dark)

Where do fluorescent zebra fish come from?

Fluorescent zebra fish were specially bred to help detect environmental pollutants. By adding a natural fluorescence gene to the fish, scientists are able to quickly and easily determine when our waterways are contaminated. The first step in developing these pollution detecting fish was to create fish that would be fluorescent all the time. It was only recently that scientists realized the public's interest in sharing the benefits of this research. We call this the GloFishfluorescent fish.

Do fluorescent fish glow?

Fluorescent fish absorb light and then re-emit it. This creates the perception that they are glowing, particularly when shining an ultraviolet light on the fish in a dark room.


How common is the use of fluorescent zebra fish in science?

For over a decade, fluorescent zebra fish have been relied upon by scientists worldwide to better understand important questions in genetics, molecular biology, and vertebrate development. Fluorescent zebra fish have been particularly helpful in understanding cellular disease and development, as well as cancer and gene therapy.

What are the differences between fluorescent zebra fish and other zebra fish?

Aside from their brilliant color, fluorescent zebra fish are the same as other zebra fish in every way. This includes everything from general care and temperature preferences to growth rate and life expectancy.

Does the fluorescence harm the fish?

No. The fish are as healthy as other zebra fish in every way. Scientists breed them by adding a natural fluorescence gene to the fish eggs before they hatch. The fish is born with this unique color, and maintains the color throughout its life. The color is also passed on to their offspring.


What will happen if a fluorescent zebra fish escapes into the waterways?

Zebra fish are tropical fish and are unable to survive in non-tropical environments. They have been sold to pet owners worldwide for more than fifty years. Despite all these years of aquarium ownership, zebra fish are only found in tropical environments, such as their native India .

What if a fluorescent zebra fish is eaten?

Eating a fluorescent zebra fish is the same as eating any other zebra fish. Their fluorescence is derived from a naturally occurring gene and is completely safe for the environment. Just as eating a blue fish would not turn a predator blue, eating a fluorescent fish would not make a predator fluoresce.


Are you going to create more fluorescent fish?

Scientists all around the world are working with fluorescent fish, whether it's to help protect the environment or come up with new disease-fighting drug therapies. As more fluorescent fish become available, they may be offered for sale to the public.

How can buying these fish help in the fight against pollution?

These fish have already existed for several years and were developed to help fight pollution. By breeding these existing fish, we will allow people to have their own fluorescent fish while promoting the beneficial scientific goals behind their development. In fact, a portion of the proceeds from sales will go directly to the lab where these fish were created in order to further their research—research we hope will help to protect the environment and save lives.

Menghindari Kematian Ikan Massal


BUDIDAYA YANG RAMAH LINGKUNGAN STUDY KASUS WADUK CIRATA

Dalam akuakultur atau budidaya perairan, kesehatan lingkungan tempat pemeliharaan ikan merupakan salah satu faktor penentu usaha budidaya menjadi untung atau rugi. Unsur kesehatan lingkungan perairan yang dimaksud seperti polusi dan penyakit.

Khususnya budidaya sistem tertutup, lingkungan perairan yang terpolusi dan berpenyakit memiliki potensi yang sangat besar untuk membunuh ikan secara massal dalam waktu yang singkat. Sistem manajemen budidaya yang baik dan pemeliharaan jenis ikan yang ramah lingkungan diduga merupakan cara terbaik untuk mencegah terjadinya kegagalan usaha akuakultur yang disebabkan oleh kematian ikan secara massal.

Bukti pentingnya kesehatan lingkungan untuk mendukung kesinambungan usaha akuakultur dapat terlihat dalam sistem budidaya jaring apung di Waduk Cirata. Dalam beberapa tahun terakhir ini, berita kematian massal ikan di jaring apung Cirata hampir selalu terdengar, terutama pada saat musim hujan. Suhu air hujan yang lebih rendah daripada suhu perairan menyebabkan terjadinya pergerakan massa air dari dasar perairan ke permukaan (up-welling).

Massa air dari lapisan bawah perairan biasanya memiliki kadar oksigen terlarut yang rendah dan kadar polutan (seperti amonia) yang tinggi. Hal inilah yang sering menyebabkan ikan mati secara mendadak dan massal di Cirata. Karena up-welling terjadi secara alamiah dan tidak selalu merugikan, maka faktor alam ini tidak bisa diultimatum sebagai penyebab kematian ikan secara massal dan mendadak tersebut. Mungkin akan lebih bijaksana bila penyebab massa air lapisan bawah memiliki kandungan oksigen terlarut sangat rendah dan kadar polutan tinggi yang diselidiki.

Bila kita bandingkan kondisi budidaya jaring apung di Cirata dengan yang di Danau Kasumigaura di Jepang, maka ditemukan banyak hal yang sangat berbeda, seperti rasio jumlah unit jaring apung dengan luasan perairan dan tingkat kepadatan ikan dalam jaring apung. Dari segi luasan, Danau Kasumigaura (22.000 ha) adalah sekitar 2,8 kali lebih luas dibandingkan dengan Waduk Cirata (sekitar 7.900 ha). Tetapi, jumlah jaring apung dan tingkat produksi ikan di Cirata adalah jauh lebih banyak.

Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat no. 41 tahun 2002, jumlah jaring apung di Waduk Cirata dibatasi sebanyak 12.000 unit. Namun demikian, sampai pertengahan tahun 2004 jumlah tersebut telah meningkat lebih dari 3 kali lipat, yaitu 39.000 unit (Kompas, 26 Juni 2004). Bila pembatasan jumlah unit jaring apung di Cirata tersebut didasarkan pada daya dukung (carrying capacity) perairan, maka diduga bahwa sudah terjadi kelebihan muatan di Cirata. Selanjutnya, dari data tingkat produksi ikan di Cirata yang mencapai sekitar 78.000 ton per tahun, dibandingkan dengan tingkat produksi ikan di Danau Kasumigaura sekitar 5.000 ton per tahun, juga menunjukkan bahwa muatan Waduk Cirata sudah sangat tinggi.

Karena tingkat kepadatan ikan tinggi, maka dibutuhkan pakan dalam jumlah yang banyak untuk mencapai ukuran panen seperti yang diharapkan dalam jangka waktu tertentu. Bila cara pemberian pakan juga tidak baik, maka jumlah pakan yang tidak dimakan oleh ikan menjadi banyak. Selain itu, bila kualitas pakan yang digunakan kurang bagus, maka banyak unsur nutrisi dari pakan yang hilang sebelum sempat dimakan oleh ikan, atau jumlah unsur nitrogen dan fosfor yang terbuang ke perairan lebih banyak. Telah diketahui bahwa nitrogen dalam bentuk senyawa amonia merupakan racun yang sangat berbahaya bila melebihi batas tertentu. Sedangkan unsur fosfor dapat menyebabkan populasi mikroorganisme menjadi sangat tinggi (blooming)

Selanjutnya, pakan yang tidak sempat dimakan oleh ikan dan jatuh ke dasar perairan akan didekomposisi oleh mikroba, dimana dalam proses dekomposisi ini membutuhkan oksigen. Bila pakan atau bahan pakan yang jatuh ke dasar perairan banyak, maka dibutuhkan oksigen yang banyak juga untuk dekomposisinya. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab rendahnya kadar oksigen terlarut pada massa air lapisan bawah.

Untuk mengatasi masalah kematian massal ikan di Cirata, beberapa cara mungkin bisa ditempuh, seperti mengurangi jumlah unit jaring apung yang ada, menurunkan padat penebaran ikan. Namun demikian kedua faktor ini membutuhkan pengertian dan kerjasama semua pihak, dan juga pengawasan yang ketat. Cara lain yang bisa ditempuh adalah penggunaan pakan ikan yang berkualitas. Pakan ramah lingkungan (environmental-friendly diet) telah berhasil diramu oleh ahli nutrisi Ikan di Universitas Ilmu dan Teknologi Kelautan Tokyo.

Pakan ini dibuat dengan menambahkan asam sitrat atau amino acid-chelated (asam amino yang terikat dengan mineral seperti Zn, Mn dan Cu) sehingga jumlah unsur fosfor yang dilepas ke air menjadi menurun. Dengan menggunakan pakan ikan ini, jumlah unsur fosfor yang tertahan (terakumulasi) di dalam tubuh ikan meningkat sekitar 30% untuk pakan yang ditambahkan asam sitrat atau 16,5% untuk pakan yang disuplementasi dengan amino acid-chelated. Penggunaan pakan ini juga berhasil menurunkan tingkat ekskresi nitrogen oleh ikan, meskipun tidak begitu tinggi.

Khusus untuk masalah polusi amonia yang jauh lebih berbahaya daripada fosfat, baru-baru ini telah dikembangkan strain ikan nila ramah lingkungan melalui pendekatan genetik. Caranya dengan menambah jumlah copy gen pengontrol hormon pertumbuhan ikan nila. Gen yang digunakan adalah berasal dari ikan nila sendiri. Dengan bertambahnya jumlah copy gen ini, aktivitas pertumbuhan jaringan otot ikan meningkat. Dengan kata lain bahwa makanan yang diperoleh sebagian besar digunakan untuk pertumbuhan sel otot, bukan digunakan sebagai sumber energi. Dengan demikian amonia yang dikeluarkan dari tubuh ikan menjadi menurun, yaitu sekitar 30-40% lebih rendah daripada ikan biasa.

Pada sistem pemeliharaan ikan nila secara tertutup (closed ecological recirculating aquaculture system), jumlah nitrogen yang dilepas oleh ikan ke air mencapai 60% dari total nitrogen yang diperoleh dari makanan. Bila ikan ramah lingkungan ini digunakan, maka jumlah nitrogen yang dikeluarkan dari tubuh ikan ke perairan tersebut bisa dikurangi menjadi 36% dari total nitrogen yang diperoleh dari makanan. Pertumbuhan ikan nila ini juga 2-3 kali lebih cepat daripada ikan nila biasa. Bobotnya bisa mencapai sekitar 1,5 kg dalam waktu 7 bulan. Penambahan jumlah copy gen ini juga telah meningkatkan efisiensi penggunaan pakan, sekitar 30% lebih tinggi daripada ikan biasa. Dengan karakter-karakter tersebut, maka pemeliharaan ikan ramah lingkungan ini akan baik bagi linkungan dan juga dapat menambah pendapatan petani ikan.

(Sumber : Simposium Nasional Bioteknologi Dalam Akuakultur, Juli 2006)

Dikutip dari :

DKP.go.id

Set Up Gmail for Outlook 2003

To set up your Outlook client to work with Gmail:

  1. Enable POP in your Gmail account. Don't forget to click Save Changes when you're done.
  2. Open Outlook.
  3. Click the Tools menu, and select E-mail Accounts...
  4. Click Add a new e-mail account, and click Next.
  5. Choose POP3 as your server type by clicking the radio button, and click Next.
  6. Fill in all necessary fields to include the following information:
    User Information
    Your Name: Enter your name as you would like it to appear in the From: field of outgoing messages.
    Email Address: Enter your full Gmail email address (username@gmail.com)

    Server Information
    Incoming mail server (POP3): pop.gmail.com
    Outgoing mail server (SMTP): smtp.gmail.com

    Login Information
    User Name: Enter your Gmail username (including @gmail.com)
    Password: Enter your Gmail password


  7. Click More Settings... and then click the Outgoing Server tab.
  8. Check the box next to My outgoing server (SMTP) requires authentication and select Use same settings as my incoming mail server.


  9. Click the Advanced tab, and check the box next to This server requires an encrypted connection (SSL) under Incoming Server (POP3).


  10. Check the box next to This server requires an encrypted connection (SSL) under Outgoing Server (SMTP), and enter 465 in the Outgoing server (SMTP) box.
  11. Click OK.
  12. Click Test Account Settings... After receiving Congratulations! All tests completed successfully, click Close.
  13. Click Next, and then click Finish.
  14. Download the latest updates for Outlook from Microsoft. This will help prevent the most common Outlook errors Gmail users see.

Congratulations! You're done configuring your client to send and retrieve Gmail messages.

Rabu, 19 Desember 2007




BUDIDAYA LELE SANGKURIANG
(Clarias sp.)

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.

Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.

Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).

Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele "Sangkuriang".

Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.

Tujuan pembuatan Petunjuk Teknis ini adalah untuk memberikan cara dan teknik pemeliharaan ikan lele dumbo strain Sangkuriang yang dilakukan dalam rangka peningkatan produksi Perikanan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dan tingkat konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, maka lele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama "Lele Sangkuriang". Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2 6).

Budidaya lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m - 800 m dpi. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi. Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya kawasan budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemda setempat.

Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.

Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumu (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yan sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yan baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut:

  1. Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air.
  2. pH air yang ideal berkisar antara 6-9.
  3. Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.

Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.

Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2. Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air (monik). Parit dibuat selebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm.

Sebaiknya pintu pemasukan dan pengeluaran air berukuran antara 15-20 cm. Pintu pengeluaran dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran. Pada bagian kotak dipasang papan penyekat terdiri dari dua lapis yang diantaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki. Sedangkan pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana, yaitu hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang didasar kolam dibawah pematang dengan bantuan pipa berbentuk "L" mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam.

Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan-ikan jangan ada yang lolos keluar/masuk.

Pelaksanaan Budidaya
Sebelum benih ikan lele ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan adalah tentang kesiapan kolam meliputi:

a.
Persiapan kolam tanah (tradisional)



Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya. Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan menggunakan balok kayu agar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran. Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor).



Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibuat parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).




Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam. Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.


Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2.

Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring

Kemudian dilakukan pengisian air kolam.

Kolam dibiarkan selama ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.
b.
Persiapan kolam tembok

Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat Permanen.
c. Penebaran Benih
Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit.
Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam. Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.
d.
Pemberian Pakan

Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan frekuensinya 3-4 kali setiap hari. Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.
e.
Pemanenan
Ikan lele Sangkuriang akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200 - 250 gram per ekor dengan panjang 15 - 20 cm. Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. Ikan lele akan berkumpul di kamalir dan kubangan, sehingga mudah ditangkap dengan menggunakan waring atau lambit. Cara lain penangkapan yaitu dengan menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon/bambu diletakkan didasar kolam, pada waktu air kolam disurutkan, ikan lele akan masuk kedalam ruas bambu/paralon, maka dengan mudah ikan dapat ditangkap atau diangkat. Ikan lele hasil tangkapan dikumpulkan pada wadah berupa ayakan/happa yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir untuk diistirahatkan sebelum ikan-ikan tersebut diangkut untuk dipasarkan.

Pengangkutan ikan lele dapat dilakukan dengan menggunakan karamba, pikulan ikan atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya dan dengan jumlah air yang sedikit.

Proses Produksi pada kegiatan pembesaran disajikan Tabel 1.

Tabel 1
Proses pembesaran lele Sangkuriang di bak tembok.

Kriteria
Satuan
Pembesaran
Ukuran Tanaman
-
Umur
hari
40
-
panjang
cm
4 - 8
-
bobot
gram
4- 6
Ukuran Panen

-
Umur
hari
130
-
panjang
cm
15 - 20
-
bobot
gram
125 - 200
Sintasan
%
80-90
Padat Tebar
Ekor/m2
50-75
Pakan
-
Tingkat Pemberian
% bobot
3
-
Frekuensi Pemberian
kali/hari
3
Tingkat Konversi Pakan
0,8 - 1,2

Kegiatan budidaya lele Sangkuriang di tingkat pembudidaya sering dihadapkan pada permasalahan timbulnya penyakit atau kematian ikan. Pada kegiatan pembesaran, penyakit banyak ditimbulkan akibat buruknya penanganan kondisi lingkungan. Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain ular dan belut. Sedangkan organisme pathogen yang sering menyerang adalah Ichthiophthirius sp., Trichodina sp., Monogenea sp. dan Dactylogyrus sp.

Penanggulangan hama insekta dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air sebelum benih ditanam. Sedangkan penanggulangan belut dapat dilakukan dengan pembersihan pematang kolam dan pemasangan plastik di sekeliling kolam.

Penanggulangan organisme pathogen dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan.

Pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam dengan baik. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan kolam tanah, persiapan kolam meliputi pengeringan, pembalikan tanah, perapihan pematang, pengapuran, pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan bak tembok atau bak plastik, persiapan kolam meliputi pengeringan, disenfeksi (bila diperlukan), pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Perbaikan kondisi air kolam dapat pula dilakukan dengan penambahan bahan probiotik.

Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit, maka hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Pindahkan segera ikan yang memperlihatkan gejala sakit dan diobati secara terpisah. Ikan yang tampak telah parah sebaiknya dimusnahkan.
  • Jangan membuang air bekas ikan sakit ke saluran air.
  • Kolam yang telah terjangkit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 1 kg/5 m2. Kapur (CaO) ditebarkan merata didasar kolam, kolam dibiarkan sampai tanah kolam retak-retak.
  • Kurangi kepadatan ikan di kolam yang terserang penyakit.
  • Alat tangkap dan wadah ikan harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit. Sebelum dipakai lagi sebaiknya dicelup dulu dalam larutan Kalium Permanganat (PK) 20 ppm (1 gram dalam 50 liter air) atau larutan kaporit 0,5 ppm (0,5 gram dalam 1 m3 air).
  • Setelah memegang ikan sakit cucilah tangan kita dengan larutan PK
  • Bersihkan selalu dasar kolam dari lumpur dan sisa bahan organik
  • Usahakan agar kolam selalu mendapatkan air segar atau air baru.
  • Tingkatkan gizi makanan ikan dengan menambah vitamin untuk menambah daya tahan ikan.

ANALISA USAHA
Pembesaran lele Sangkuriang di bak plastik

1.
Investasi
a.
Sewa lahan 1 tahun @ Rp 1.000.000,-
=
Rp
1.000.000,-
b.
Bak kayu lapis plastik 3 unit @ Rp 500.000,-
=
Rp
1.500.000,-
c.
Drum plastik 5 buah @ Rp 150.000,-
=
Rp
750.000,-


Rp
3.250.000,-
2.
Biaya Tetap
a.
Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn
=
Rp
1.000.000,-
b.
Penyusutan bak kayu lapis plastik Rp 1.500.000,-/2 thn
=
Rp
750.000,-
c.
Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn
=
Rp
150.000,-


Rp
1.900.000,-
3.
Biaya Variabel


a.
Pakan 4800 kg @ Rp 3700
=
Rp
17.760.000,-
b.
Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 25.263 ekor @ Rp 80,-
=
Rp
2.021.052,63
c.
Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,-
=
Rp
300.000,-
d.
Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,-
=
Rp
200.000,-
e.
Tenaga kerja tetap 12 OB @ Rp 250.000,-
=
Rp
3.000.000,-
f.
Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,-
=
Rp
1.200.000,-

Rp
24.281.052,63
4.
Total Biaya

Biaya Tetap + Biaya Variabel
=
Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63
=
Rp 26.181.052,63
5.
Produksi lele konsumsi 4800 kg x Rp 6000/kg -Rp 28.800.000,
6.
Pendapatan

Produksi - (Biaya tetap + Biaya Variabel)

=
Rp 28.800.000,- - ( Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63)

=
Rp 2.418.947,37
7.
Break Event Point (BEP)
Volume produksi
=
4.396,84 kg
Harga produksi
=
Rp 5.496,05

Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya



Google